BERITA62.COM – Di balik setiap makanan yang kita santap, sering kali tersembunyi kisah menarik yang tak terduga. Salah satunya adalah kisah tentang sandwich—sepotong kecil kejeniusan manusia yang lahir dari kebutuhan paling sederhana, makan tanpa gangguan.
Cerita ini bermula lebih dari dua abad yang lalu, di sebuah ruangan remang dengan aroma tembakau dan denting koin logam di Inggris abad ke-18. John Montagu, bangsawan Inggris bergelar Earl of Sandwich ke-4, dikenal bukan hanya karena gelarnya, tetapi juga karena kebiasaan uniknya, berjudi berjam-jam tanpa jeda.
Di tengah permainan kartu yang menegangkan, rasa lapar menyerang. Namun ia enggan bangkit dari kursi. Ia butuh solusi cepat, praktis dan tidak mengotori tangan. Dengan satu perintah sederhana kepada pelayannya—membawa potongan daging diapit dua lembar roti—lahirlah makanan yang kini dikenal oleh seluruh dunia, sandwich.
Apa yang tampak sebagai pilihan instan seorang bangsawan ternyata adalah cikal bakal revolusi kuliner. Para pemain lain, terinspirasi oleh kepraktisan itu, mulai memesan “makanan seperti Sandwich.” Tanpa disadari, nama sang earl terabadikan, bukan dalam buku sejarah politik, melainkan dalam menu restoran dan pikiran setiap orang yang butuh makan cepat.
Namun, yang membuat sandwich begitu istimewa bukan hanya sejarahnya yang unik, melainkan kemampuannya untuk beradaptasi dengan zaman dan budaya. Di Amerika, sandwich menjelma menjadi roti lapis isi selai kacang dan jeli. Di Prancis, ia menjadi croque monsieur yang hangat dan renyah. Di Jepang, sandwich berisi stroberi dan krim manis menjadi sajian estetik nan menggoda.
Sandwich mengajarkan kita bahwa inovasi besar bisa lahir dari kebutuhan kecil. Bahwa kreativitas tak selalu butuh laboratorium atau ruang rapat—kadang cukup meja judi dan rasa lapar. Lebih dari sekadar makanan, sandwich adalah simbol fleksibilitas, kesederhanaan, dan kecerdikan manusia dalam menghadapi keterbatasan.
Kita semua punya “meja judi” masing-masing dalam hidup—momen ketika harus memilih antara menyelesaikan pekerjaan atau merawat diri, antara kepraktisan dan kebutuhan. Sandwich mengingatkan kita, kita bisa menemukan cara di tengah keterbatasan. Kita bisa membuat sesuatu yang sederhana menjadi luar biasa, bahkan abadi.
Jadi, lain kali saat kamu menggigit sepotong sandwich, ingatlah, kamu tidak hanya menikmati roti dan isinya, tapi juga sepotong sejarah, kecerdikan dan semangat manusia yang tak pernah berhenti mencipta. (BME-1)







