Kenapa Pergi Terasa Jauh tapi Pulang Selalu Lebih Dekat?

Setiap menit terasa panjang, setiap keterlambatan kecil terasa menjengkelkan.

Ilustrasi perjalanan. (Pixabay.com)

BERITA62.COM– Ada satu pengalaman kecil yang rasanya nyaris dimiliki semua orang. Saat hendak pergi ke suatu tempat, perjalanan terasa panjang. Jalan seperti tidak ada habisnya. Jam seolah bergerak lambat. Namun ketika pulang, lewat jalan yang sama, semuanya terasa berbeda. Belum lama melangkah atau berkendara, tahu-tahu sudah dekat rumah.

Aneh tapi nyata. Padahal jarak tidak berubah. Jalan tetap sama. Yang berubah hanya perasaan kita.

Biasanya, saat berangkat, kita membawa harapan sederhana. Dalam kepala, perjalanan ini mestinya cepat. Apalagi kalau sudah sering melihat peta atau mendengar orang bilang jaraknya dekat. Ketika kenyataan tidak seindah bayangan, jalan terasa memutar, jalan rusak, atau kendaraan berjalan pelan, muncul rasa tidak sabar. Di situlah otak mulai merasa jarak ini “kok jauh sekali”.

Perasaan itu semakin kuat karena perjalanan pergi sering dipenuhi hal-hal baru. Rute yang belum benar-benar akrab membuat mata dan pikiran terus bekerja. Belokan diperhatikan. Penanda jalan dicari. Lingkungan sekitar dipindai. Otak bekerja lebih keras, dan ketika otak bekerja lebih keras, waktu pun terasa berjalan lebih lambat.

Belum lagi urusan pikiran. Pergi biasanya berarti ada sesuatu yang menunggu. Pekerjaan, janji, tugas, atau sekadar rasa takut terlambat. Pikiran dipenuhi bayangan tentang apa yang akan dihadapi. Dalam kondisi seperti itu, kita menjadi sangat sadar pada waktu. Setiap menit terasa panjang, setiap keterlambatan kecil terasa menjengkelkan.

Lalu tibalah saat pulang.

Arah berbalik, suasana berubah. Rute sudah dikenal. Otak tidak lagi sibuk membaca tanda dan belokan. Bahkan kadang perjalanan pulang dilalui sambil melamun. Pikiran mulai rileks. Urusan sudah lewat. Beban pelan-pelan dilepas. Tanpa disadari, jarak yang sama terasa jauh lebih singkat.

BACA  Mengunyah Sirih-Pinang dan Virus Corona

Fenomena ini ternyata bukan sekadar perasaan. Dalam psikologi, ada istilah yang disebut efek perjalanan pulang. Intinya sederhana. Otak manusia tidak mengukur waktu seperti jam di dinding. Ia mengandalkan pengalaman, emosi dan ekspektasi. Karena perjalanan pergi terasa lebih lama dari yang kita bayangkan, otak kemudian menyesuaikan penilaiannya saat pulang. Akibatnya, perjalanan pulang hampir selalu terasa lebih cepat.

Penelitian bahkan menunjukkan bahwa ketika seseorang sejak awal diberi gambaran waktu tempuh yang realistis, perasaan “pergi terasa jauh” itu bisa berkurang. Artinya, yang sering menipu kita bukan jalan, melainkan perkiraan kita sendiri.

Namun di luar penjelasan ilmiah, ada makna sederhana yang terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Pergi sering kali berarti membawa beban. Pikiran penuh. Hati tegang. Sementara pulang hampir selalu identik dengan kelegaan. Dengan melepas. Dengan kembali ke keadaan yang lebih tenang.

Mungkin itulah sebabnya pulang selalu terasa lebih dekat. Bukan karena jaraknya memendek, melainkan karena beban di kepala sudah lebih ringan. Dan kadang, yang membuat perjalanan terasa panjang bukanlah jalan yang kita tempuh, tetapi pikiran yang belum sempat beristirahat. (BME-1)