BERITA62.COM – Saya pertama kali mengenal kata Valentine bukan dari drama Korea, bukan dari status WhatsApp bertabur emoji hati, apalagi dari iklan diskon cokelat di minimarket.
Saya mengenalnya dari sebuah kartu ucapan yang saya temukan di pinggir jalan.
Tahun 1990.
Entah siapa yang menjatuhkannya, entah siapa yang sedang kasmaran, atau mungkin ada yang patah hati lalu kartu itu dibuang begitu saja seperti struk belanja yang tak lagi penting.
Sejak saat itu sampai hari ini, satu hal masih konsisten: saya belum pernah merayakan Valentine.
Bukan karena saya menentangnya, bukan pula karena ikut-ikutan larangan yang kadang muncul menjelang 14 Februari seperti pengumuman razia dadakan.
Saya cuma merasa belum punya alasan yang benar-benar kuat untuk ikut larut.
Karena dalam batin saya selalu muncul pertanyaan sederhana:
“Kalau memang sayang, kenapa harus nunggu setahun sekali baru diungkapkan?”
Bilang sayang itu kan bukan seperti peringatan hari besar nasional.
Bukan agenda tahunan.
Kasih sayang itu semestinya seperti sinyal ponsel: kalau bisa stabil, jangan cuma aktif sehari.
Sebab bayangkan kalau orang yang ingin kita ungkapkan sayang keburu lebih dulu mendapatkan perhatian dari orang lain.
Orang lain yang rajin bilang, “Aku peduli kok,” bukan cuma lewat kata-kata tapi juga lewat hal-hal kecil setiap hari.
Lalu kita masih menunggu tanggal 14 Februari sambil membuka kalender seperti menunggu gajian.
Lebih menohok lagi, hidup ini tidak pernah memberi garansi panjang umur.
Kalau kesempatan bilang sayang ditunda terus, lalu tiba-tiba waktu keburu habis, penyesalannya bisa berkali-kali lipat.
Masa harus menunggu Valentine dulu baru berani mengungkapkan perhatian?
Lalu soal cokelat.
Nah ini yang selalu membuat saya geli.
Kasihan sekali kalau ada orang yang sebenarnya suka cokelat tapi harus menunggu momen Valentine untuk mendapatkannya.
Seolah-olah cokelat itu barang musiman seperti ketupat atau kue nastar.
Padahal kalau dipikir-pikir, menahan keinginan makan cokelat selama 365 hari itu bukan hal ringan.
Cokelat itu bukan cuma soal romantis-romantisan.
Cokelat itu soal kebahagiaan kecil.
Soal mood yang membaik.
Soal hadiah sederhana yang bisa diberikan kapan saja.
Cokelat bisa untuk istri, suami, anak, teman, atau bahkan untuk diri sendiri ketika hidup sedang melelahkan dan berita-berita terasa berat.
Yang jelas, cokelat tidak tabu dimakan di luar 14 Februari.
Dan lucunya lagi, cokelat sebenarnya tidak punya hubungan langsung dengan kisah Valentine yang asli.
Kalau kita mundur jauh ke belakang, Valentine bukan berasal dari pabrik cokelat atau toko bunga.
Valentine berasal dari nama seorang santo, St Valentine, seorang pastor di Roma pada abad ke-3.
Konon, ia dihukum mati oleh Kaisar Claudius II karena diam-diam menikahkan pasangan muda yang dilarang menikah.
Di masa itu, cinta bahkan bisa dianggap sebuah pelanggaran.
Dari sanalah Valentine dikenang—bukan sebagai pesta hadiah manis, melainkan sebagai kisah keberanian dan pengorbanan.
Baru ratusan tahun kemudian, perayaan ini berubah bentuk menjadi festival hati, bunga, cokelat, dan dompet yang mendadak lebih tipis.
Dan kalau dompet memang sedang tipis, tak usah panik.
Cinta tidak selalu harus dibuktikan dengan cokelat mahal.
Kadang perhatian sederhana jauh lebih bermakna.
Karena pada akhirnya, yang penting bukan cokelatnya.
Yang penting adalah kasih sayangnya.
Dan kasih sayang itu, seharusnya tidak ditunda sampai 365 hari.
____________
Penulis: Agustinus Bole Malo (Ketua PWI Barito Timur, Ketua Bidang Advokasi Paguyuban Keluarga Flobamora Tamiang Layang).







