BERITA62.COM, Jakarta – Fenomena hujan meteor Quadrantids telah menghiasi langit Indonesia pada Sabtu malam hingga dini hari Minggu, 4 Januari 2026. Fenomena astronomi tahunan ini menjadi salah satu peristiwa langit pertama yang menandai awal tahun 2026 dan sempat dapat disaksikan masyarakat di sejumlah wilayah dengan kondisi cuaca cerah.
Hujan meteor Quadrantids terjadi ketika Bumi melintasi sisa debu kosmik yang ditinggalkan oleh asteroid 2003 EH1. Partikel-partikel kecil tersebut memasuki atmosfer Bumi dengan kecepatan tinggi dan terbakar, sehingga tampak sebagai kilatan cahaya yang melesat cepat di langit malam.
Astronom dari Observatorium Bosscha, Premana W Premadi, dalam sejumlah laporan media nasional menjelaskan bahwa Quadrantids dikenal sebagai salah satu hujan meteor dengan intensitas cukup tinggi meskipun durasi puncaknya relatif singkat.
“Quadrantids bisa menghasilkan meteor-meteor terang yang terlihat jelas dengan mata telanjang, terutama menjelang fajar,” ujarnya.
Namun demikian, pengamatan hujan meteor kali ini diakui tidak berlangsung optimal di semua wilayah. Sejumlah media melaporkan bahwa fase bulan purnama yang bertepatan dengan waktu puncak Quadrantids menyebabkan cahaya bulan cukup terang sehingga menutupi meteor-meteor yang lebih redup.
Direktur Planetarium Liberty Science Center Amerika Serikat, Mike Shanahan, sebagaimana dikutip media sains internasional, menyebut cahaya bulan merupakan tantangan utama dalam pengamatan hujan meteor.
“Bulan purnama dapat secara signifikan mengurangi jumlah meteor yang terlihat, terutama yang cahayanya lemah,” kata Shanahan.
Meski demikian, pengamat langit yang berada di lokasi minim polusi cahaya masih berpeluang menyaksikan beberapa meteor terang yang melintas cepat.
Meteor-meteor tersebut dapat muncul di berbagai arah langit dan tidak harus diamati dengan alat khusus seperti teleskop.
Hujan meteor Quadrantids sendiri dinamai dari titik radiasinya yang berada di rasi langit kuno Quadrans Muralis, sebuah rasi yang kini tidak lagi digunakan dalam peta astronomi modern. Fenomena ini tercatat sebagai hujan meteor tahunan yang rutin terjadi setiap awal Januari. (BME-3)






