Ramadan, Idulfitri dan Kesalahan yang Berulang Setiap Tahun

Setiap tahun kita mengulang puasa. Mengulang tarawih. Mengulang takbir. Mungkin sudah saatnya kita berhenti mengulang kesalahan ejaan yang sama.

Ornamen Ramadan. (Pixabay)

BERITA62.COM – Setiap kali bulan suci datang, suasana berubah. Spanduk ucapan selamat terpasang di sudut-sudut kota. Poster promo bertebaran. Grup WhatsApp keluarga mulai ramai dengan desain kartu digital bernuansa hijau dan emas. Ramadan memang selalu membawa atmosfer yang berbeda.

Namun ada satu hal kecil yang hampir selalu ikut datang setiap tahun, kekeliruan penulisan.

Kita sering membaca Ramadhan. Atau Romadhon. Bahkan kadang Ramadlan. Padahal dalam bahasa Indonesia yang baku, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bentuk yang benar adalah Ramadan. Tanpa huruf “h” di belakang. Tanpa “o”.

Mengapa begitu? Karena ketika kata Arab diserap ke dalam bahasa Indonesia, ejaannya disesuaikan dengan sistem fonetik dan aturan ejaan kita. Bahasa Indonesia tidak memakai “dh” sebagai gabungan huruf resmi. Maka “Ramadhan” berubah menjadi Ramadan.

Hal yang sama terjadi pada banyak kata lain. Kita menulis salat bukan shalat. Zakat bukan zakaat. Wudu bukan wudhu. Penyesuaian ini bukan mengurangi makna religiusnya. Justru ini bentuk kerapian bahasa.

Lalu masuk ke momen setelahnya, Idulfitri.

Ini juga tak kalah ramai variasinya. Ada yang menulis Idul Fitri. Ada Iedul Fitri. Ada Ied Fitri. Bahkan Idhul Fitri. Padahal yang baku adalah Idulfitri, ditulis serangkai.
Kata “Idulfitri” sudah menjadi satu kesatuan makna dalam bahasa Indonesia. Karena itu tidak dipisah. Sama seperti kita menulis olahraga bukan olah raga dalam bentuk bakunya.

Menjelang Lebaran, kekeliruan ini biasanya muncul di baliho besar. Kadang dipasang oleh instansi. Kadang oleh lembaga pendidikan. Kadang bahkan oleh media. Hurufnya besar. Warnanya mencolok. Tapi ejaannya keliru.

Bukan hanya Ramadan dan Idulfitri. Ada juga penulisan tempat ibadah yang sering tertukar.

Banyak orang menulis Mesjid. Padahal yang benar menurut KBBI adalah masjid. Tanpa huruf “e”. Penulisan “mesjid” memang lama beredar dan terasa akrab di telinga. Tetapi dalam standar bahasa Indonesia, yang baku adalah masjid.

BACA  Ini Pedoman Penyelenggaraan Ibadah Ramadan dan Idulfitri 1443 H

Begitu juga dengan mushala. Ada yang menulis musholla. Ada musola. Ada mushala dengan dua huruf “l”. Bentuk yang baku adalah musala. Satu “s”, satu “l”. Sederhana.

Kita mungkin berpikir, ah, ini hanya soal huruf. Tidak ada hubungannya dengan keimanan. Tidak mengubah kekhusyukan salat. Tidak mengurangi pahala puasa.

Benar. Ini bukan soal sah atau tidaknya ibadah.

Namun bahasa adalah cermin ketertiban berpikir.
Ketika kita ingin menghadirkan suasana religius yang rapi, terasa janggal jika huruf-hurufnya justru berantakan.

Ramadan mengajarkan disiplin. Menahan diri. Menjaga waktu. Mengatur niat. Mungkin tidak berlebihan jika kita juga belajar sedikit disiplin dalam menulisnya.

Apalagi bagi media, guru, pegawai instansi, atau siapa saja yang sering membuat pengumuman publik. Tulisan yang benar bukan sekadar estetika. Ia adalah tanggung jawab literasi.

Setiap tahun kita mengulang puasa. Mengulang tarawih. Mengulang takbir. Mungkin sudah saatnya kita berhenti mengulang kesalahan ejaan yang sama.

Karena menghormati makna bisa dimulai dari menghormati hurufnya.

____________

Penulis: Agustinus Bole Malo, Ketua PWI Barito Timur