BERITA62.COM, Barito Timur – Malam di Rutan Kelas IIB Tamiang Layang Kabupaten Barito Timur terasa berbeda ketika Ramadan datang. Keheningan bukan lagi sekadar sunyi. Ia berubah menjadi ruang perenungan.
Selepas salat isya dan tarawih berjamaah, sebelas Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) duduk melingkar di Masjid Al-Akbar Rutan. Di hadapan mereka, mushaf terbuka. Jari-jari menelusuri baris demi baris. Suara mereka bergantian. Lirih. Terjaga. Penuh kesadaran.
Ramadan 1447 Hijriah menjadi momentum yang mereka nantikan. Bukan hanya karena suasana bulan suci. Tetapi karena ada kesempatan untuk menata ulang diri.
Kegiatan tadarusan itu dipimpin ustadz dari Kantor Kementerian Agama Barito Timur. Diawali salat berjamaah. Dilanjutkan bacaan Al-Qur’an secara bergiliran dengan satu tujuan yang sama, khatam sebelum Ramadan berakhir.
Tidak semua warga binaan bisa mengikuti. Sebelas orang itu dipilih melalui sidang Tim Pengamat Pemasyarakatan (TPP). Kedisiplinan dan perkembangan pembinaan menjadi pertimbangan utama. Di dalam proses itu, ada kepercayaan yang diberikan. Ada tanggung jawab yang dipikul.
Kepala Rutan Tamiang Layang, Agung Novarianto, memandang kegiatan ini sebagai bagian penting dari pembinaan kepribadian berbasis spiritual yang rutin digelar setiap Ramadan.
“Ramadan adalah waktu yang tepat untuk meningkatkan kualitas ibadah. Kami berharap melalui tadarusan ini para warga binaan semakin mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan memiliki tekad kuat untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik,” ujarnya, Jumat 20 Februari 2026.
Bagi Agung, pembinaan di Rutan bukan semata menjaga keamanan. Lebih dari itu, ia adalah ikhtiar mengubah perilaku. Menguatkan batin. Menumbuhkan kesadaran.
“Kami ingin Ramadan di Rutan ini benar-benar memberi dampak positif bagi warga binaan. Kegiatan ini dilaksanakan rutin setiap malam selama bulan suci,” tegasnya.
Di setiap lantunan ayat, ada penyesalan yang mungkin tak terucap. Ada doa yang barangkali hanya dipahami oleh langit. Di balik jeruji, mereka tidak hanya membaca. Mereka belajar merendah. Belajar memohon. Belajar berharap.
Regu pengamanan tetap berjaga sesuai jadwal. Semua berlangsung aman dan tertib. Kekhusyukan berjalan berdampingan dengan disiplin.
Melalui program tadarusan Ramadan ini, Direktorat Jenderal Pemasyarakatan terus mendorong penguatan pembinaan kerohanian. Sebuah upaya membentuk warga binaan yang lebih religius, lebih disiplin dan lebih siap kembali ke tengah masyarakat.
Ramadan 1447 Hijriah di Rutan Tamiang Layang tidak menghadirkan gemerlap. Tidak pula keramaian.
Yang ada hanya mushaf yang dibuka setiap malam.
Suara yang bergetar pelan.
Dan hati yang perlahan menemukan jalan pulang. (BME-1)







