BERITA62.COM – Di banyak meja makan rakyat Indonesia, ikan Mujair hadir nyaris tanpa cerita. Ia datang sederhana, berkulit perak kecokelatan, digoreng garing di wajan kecil, dibakar di pinggir sawah selepas panen, atau direbus dalam kuah asam yang mengepul pelan. Ia disantap tanpa upacara, tanpa perayaan. Namun justru dari kesahajaan itulah, sebuah kisah besar bermula, kisah tentang ketekunan, rasa ingin tahu, dan seorang nelayan kampung yang namanya menyeberangi zaman.
Nama “Mujair” bukan istilah ilmiah. Bukan pula kosakata warisan bahasa daerah. Ia adalah nama manusia. Nama seorang nelayan biasa bernama Mujair, warga pesisir Blitar, Jawa Timur, yang hidup pada masa ketika pengetahuan masih beredar dari mulut ke mulut dan keberanian mencoba lebih berharga daripada ijazah.
Pada pertengahan 1930-an, Mujair kerap menyusuri perairan muara pantai selatan. Di sana, ia menemukan seekor ikan yang tak biasa. Bentuknya asing bagi mata nelayan setempat. Gerakannya lincah, sisiknya kokoh, dan yang paling mengundang rasa heran, ikan itu tidak mudah mati, bahkan saat berpindah dari air payau ke wadah sederhana.
Kebanyakan nelayan mungkin akan menjualnya, atau menganggapnya sekadar tangkapan kebetulan. Namun Mujair memilih jalan lain. Ia membawa ikan itu pulang, ke halaman rumahnya yang bersahaja. Di kolam seadanya, tanpa pompa, tanpa aerator, tanpa teori, ia memulai sebuah percobaan yang pada zamannya nyaris terdengar mustahil, memelihara ikan laut dan payau di air tawar.
Hari demi hari, ia mengamati. Minggu demi minggu, ia mencoba. Beberapa kali gagal, berkali-kali nyaris menyerah. Tak ada buku panduan, tak ada dosen pembimbing. Yang ada hanyalah mata yang tekun, tangan yang sabar, dan keyakinan bahwa alam selalu menyimpan rahasia bagi mereka yang mau mendengarkan.
Dan alam pun menjawab. Ikan itu bukan hanya bertahan hidup, tetapi berkembang biak dengan cepat. Dari kolam kecil di belakang rumah, harapan tumbuh. Dari percobaan sederhana, lahir kemungkinan besar.
Kabar keberhasilan itu akhirnya melampaui batas desa. Pemerintah kolonial Belanda mendengar dan melakukan penelitian. Ikan tersebut diidentifikasi sebagai Oreochromis mossambicus, sejenis tilapia asal Afrika. Namun bagi rakyat, nama ilmiah tak pernah lebih kuat dari kisah manusia. Ikan itu terlanjur disebut dengan nama orang yang pertama kali menjinakkannya, ujair.
Di situlah sejarah kecil berubah menjadi sejarah besar.
Nama Mujair menyebar pelan namun pasti, dari kolam ke kolam, dari desa ke desa, hingga ke dapur-dapur rakyat di berbagai penjuru Nusantara. Ikan ini tumbuh cepat, tahan penyakit, dan mudah dipelihara. Jauh sebelum istilah “ketahanan pangan” menjadi jargon kebijakan, mujair telah lebih dulu menjawab kebutuhan rakyat, sumber protein murah yang bisa diusahakan sendiri.
Yang membuat kisah ini semakin istimewa, tidak banyak ikan di Indonesia yang dinamai dari rakyat biasa. Mujair bukan pejabat, bukan ilmuwan, bukan bangsawan. Ia tak pernah menulis jurnal, tak pula berdiri di podium. Namun namanya hidup lebih lama dari usia jasadnya, abadi dalam bahasa, dalam ingatan kolektif, dan dalam kebiasaan makan sehari-hari bangsa ini.
Hari ini, mujair kerap disamakan dengan ikan nila. Keduanya memang satu keluarga. Namun secara sejarah, mujair adalah pelopor. Ia membuka jalan bagi berkembangnya budidaya ikan air tawar di Indonesia, yang kemudian menjadi tulang punggung ekonomi banyak desa dan penghidupan jutaan keluarga.
Kisah Mujair mengajarkan sesuatu yang kerap kita lupakan, perubahan besar tidak selalu lahir dari laboratorium canggih atau gedung megah. Kadang, ia muncul dari kolam kecil di belakang rumah seorang nelayan, dari keberanian untuk bertanya, mencoba, dan tidak menyerah pada keterbatasan.
Dan setiap kali ikan mujair tersaji di meja makan, sesungguhnya kita sedang menyantap sepotong kecil sejarah rakyat Indonesia, sejarah tentang manusia biasa yang, dengan ketekunan dan rasa ingin tahu, meninggalkan jejak abadi di piring kita. (BME-1)






