BERITA62.COM, Barito Timur – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyampaikan bahwa intensitas hujan yang meningkat dalam beberapa hari terakhir di Kabupaten Barito Timur dipastikan sebagai kondisi alamiah yang berulang setiap tahun saat memasuki puncak musim penghujan. Selain itu terdapat sejumlah faktor pemicu yang menyebabkan cuaca basah ini berlangsung lebih sering dan merata di wilayah Kalimantan Tengah.
Kepala Stasiun Meteorologi Sanggu, Eko Bambang Minarto, menjelaskan bahwa periode November, Desember, hingga Januari merupakan masa musim hujan di Kalimantan Tengah, sehingga wajar bila frekuensi hujan meningkat signifikan.
“Memasuki bulan November hingga Januari, wilayah Kalimantan Tengah termasuk Barito Timur memang masuk musim hujan. Ini siklus tahunan, sehingga peningkatan curah hujan adalah hal yang umum,” ujarnya, Senin, 1 Desember 2025.
Selain faktor musiman, peningkatan tutupan awan juga dipengaruhi dinamika atmosfer global. Menurut Eko, kondisi El Nino lemah dan Dipole Mode Index (DMI) negatif turut memicu berkembangnya awan konvektif dalam jumlah besar. DMI adalah indeks yang mengukur perbedaan suhu permukaan laut antara Samudra Hindia bagian barat (dekat Afrika) dan Samudra Hindia bagian timur (di sebelah selatan Jawa dan Sumatra).
“El Nino lemah dan indeks DMI negatif berkontribusi terhadap pertumbuhan awan konvektif yang kemudian meningkatkan potensi hujan. Ditambah lagi, musim hujan di wilayah kita memang berlangsung dari November sampai diperkirakan Januari 2026,” terangnya.
BMKG juga mencatat penguatan Monsun Asia yang membawa massa udara basah ke wilayah Indonesia. Aliran udara lembap ini memicu pembentukan awan tebal yang berpotensi menurunkan hujan di berbagai daerah, termasuk Barito Timur.
“Monsun Asia yang menguat membuat suplai udara basah meningkat. Dampaknya, potensi hujan di Kalimantan Tengah ikut naik,” jelas Eko.
Faktor lain yang menambah peluang terjadinya hujan adalah terbentuknya belokan angin dan area konvergensi di atas Kalimantan Tengah. Fenomena ini memicu pengumpulan massa udara yang naik ke atmosfer dan menghasilkan pembentukan awan hujan.
“Belokan angin dan konvergensi menjadi pemicu tambahan pembentukan awan konvektif, sehingga hujan lebih mudah terjadi di wilayah Barito Timur,” imbuh Eko.
Di tengah kondisi cuaca yang basah dan mudah berubah, BMKG mengingatkan masyarakat Barito Timur untuk tetap waspada terhadap potensi gangguan kesehatan.
“Musim hujan sering memunculkan batuk, pilek, dan virus lainnya. Masyarakat perlu menjaga stamina dan mengurangi risiko paparan,” terang Eko.
BMKG juga menyampaikan sejumlah imbauan untuk keselamatan warga. Ia meminta masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah saat hujan, terutama bagi anak-anak dan lansia.
“Jika terpaksa keluar, selalu siapkan jas hujan atau payung. Yang paling penting, jangan berteduh di bawah pohon saat hujan disertai petir,” tegas Eko.
BMKG mengajak masyarakat untuk rutin memantau perkembangan cuaca melalui kanal resmi.
“Silakan pantau pembaruan informasi cuaca melalui situs resmi BMKG di infobmkg.go.id agar dapat mengantisipasi perubahan kondisi cuaca dengan lebih baik,” tutup Eko. (BME-1)







