BERITA62.COM, Jakarta – Presiden Senat Kerajaan Kamboja, Samdech Akka Moha Sena Padei Techo Hun Sen, memulai kunjungan resmi ke Indonesia dengan tiba di Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta, pada pukul 09.50 WIB, Senin pagi, 5 Mei 2025.
Kunjungan ini dijadwalkan berlangsung selama tiga hari, mulai 5 hingga 7 Mei 2025, sebagai bagian dari upaya memperkuat kemitraan strategis antara Indonesia dan Kamboja.
Kedatangan Hun Sen disambut langsung oleh Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, Duta Besar RI untuk Kamboja Santo Darmosumarto, serta Komandan Lanud Halim Perdanakusuma Marsma TNI Muzafar. Upacara penyambutan kehormatan juga digelar dengan pasukan berjajar rapi di bawah tangga pesawat, menandai hangatnya sambutan Indonesia terhadap tamu negara tersebut.
Setelah prosesi penyambutan di bandara, Hun Sen bersama delegasi langsung menuju Istana Merdeka untuk bertemu dengan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto.
Menurut Deputi Bidang Protokol, Pers dan Media Sekretariat Presiden Yusuf Permana, Presiden Prabowo dijadwalkan menyambut Hun Sen secara resmi di halaman istana sebelum keduanya menggelar pertemuan tête-à-tête.
“Setelah upacara penyambutan, kedua pemimpin akan melakukan pertemuan empat mata di ruang kerja Presiden, yang kemudian dilanjutkan dengan jamuan resmi,” kata Yusuf dalam keterangan tertulis.
Pertemuan antara Presiden Prabowo dan Presiden Senat Hun Sen dinilai sebagai momentum penting dalam mempererat hubungan bilateral antara kedua negara Asia Tenggara. Dalam kunjungan ini, kedua pemimpin diperkirakan akan membahas berbagai isu strategis, termasuk kerja sama politik, ekonomi, sosial budaya hingga keamanan kawasan.
Hubungan antara Indonesia dan Kamboja selama ini berjalan harmonis dalam kerangka ASEAN dan kerja sama multilateral lainnya. Kunjungan Hun Sen ke Indonesia menegaskan komitmen kedua negara untuk terus memperdalam hubungan persahabatan dan memperluas kerja sama yang saling menguntungkan.
Kunjungan resmi ini juga dipandang sebagai bentuk penghormatan dan apresiasi terhadap Indonesia sebagai mitra penting di kawasan, sekaligus sebagai kelanjutan dari komunikasi intensif yang telah terjalin sejak lama antara pemimpin kedua negara. (BME-3)






