BERITA62.COM, Barito Timur – Setiap kali momen Lebaran tiba, ada satu hal yang nyaris selalu hadir di meja ruang tamu banyak rumah di Indonesia, kaleng biskuit Khong Guan. Ikon yang tak lekang oleh waktu itu lebih dari sekadar wadah biskuit, ia adalah bagian dari kenangan, dari cerita-cerita masa kecil, hingga gurauan khas bahwa hanya di hari raya isinya benar-benar biskuit, bukan rengginang atau kue kering lainnya.
Namun, ada satu pertanyaan yang terus menggelitik banyak orang, di dalam ilustrasi klasik kaleng tersebut, seorang ibu duduk dengan dua anaknya, menikmati teh dan biskuit dengan penuh kehangatan. Tetapi, ke mana sosok sang ayah? Mengapa ia tidak ada di sana?
Nama Bernardus Prasodjo mungkin tidak setenar karyanya, tetapi di balik kesederhanaannya, ia adalah seniman yang tanpa disadari telah meninggalkan jejak mendalam di benak masyarakat Indonesia. Bernardus adalah sosok di balik lukisan yang telah menghiasi kaleng biskuit Khong Guan selama bertahun-tahun.
Dalam sebuah wawancara yang dikutip dari Antara News, Bernardus mengungkapkan bahwa gambar itu bukan sepenuhnya buah imajinasinya. Pada akhir 1970-an, ia mendapat pesanan dari sebuah perusahaan separasi film untuk menggambar ilustrasi kemasan. Salah satu pesanan itu adalah untuk Khong Guan.
“Mereka pesan banyak gambar ke saya, termasuk yang satu ini,” ujar Bernardus.
Ia mengaku, konsep awal gambar itu berasal dari sebuah majalah. Potongan gambar yang diterimanya sudah lusuh, sehingga ia hanya mengikuti arahan dan sedikit menyesuaikan detail.
“Ya, cuma ini bajunya warna kuning, yang ini merah. Anak yang ini sedikit digeser, yang ini jadi pegang biskuit. Begitu saja,” tuturnya santai.
Misteri ketiadaan sosok ayah dalam gambar itu telah memicu banyak spekulasi selama bertahun-tahun. Ada yang mengatakan sang ayah sedang bekerja, ada yang bercanda bahwa ia hanya pergi membeli biskuit dan tak kunjung kembali. Bahkan, ada teori yang mengaitkannya dengan nilai-nilai keluarga dalam budaya Asia.
Ketika pertanyaan ini diajukan kepada Bernardus, ia pun tersenyum.
“Saya sendiri tidak tahu persis kenapa ayahnya tidak ada. Tapi menurut saya, ini cara untuk mempengaruhi ibu rumah tangga supaya membeli. Jadi yang penting ada ibunya di situ,” jelasnya.
Jawaban sederhana yang justru menambah daya tarik dari gambar tersebut. Bisa jadi, dengan menggambarkan seorang ibu dan anak-anaknya, pesan yang ingin disampaikan adalah bahwa biskuit Khong Guan adalah bagian dari kehangatan keluarga, dan ibu sebagai pusat dari momen kebersamaan itu.
Hingga kini, lebih dari empat dekade setelah pertama kali dibuat, ilustrasi pada kaleng Khong Guan tetap bertahan. Desainnya nyaris tidak berubah, menjadi simbol nostalgia bagi banyak generasi. Warna merah khas, gambar biskuit yang menggoda, dan tentu saja, keluarga kecil yang duduk di meja tanpa kehadiran ayah, tetap menjadi bagian dari tradisi.
Bagi Bernardus, mungkin ini hanya salah satu dari sekian banyak ilustrasi yang pernah ia buat dalam perjalanan kariernya. Namun, tanpa disadarinya, ia telah menciptakan sebuah warisan visual yang terus hidup di dalam ingatan masyarakat.
Mungkin di situlah letak kekuatan sejati sebuah karya seni, bukan sekadar gambar di atas kertas, tetapi sesuatu yang dapat membangkitkan rasa penasaran, menciptakan diskusi dan menghadirkan kenangan bagi setiap orang yang melihatnya. (BME-1)







