BERITA62.COM, Jakarta – Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani menegaskan bahwa Indonesia harus mengambil peran lebih besar dalam industri kendaraan listrik. Hal ini disampaikan usai pertemuannya dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis, 6 Februari 2025.
Menurut Rosan, Indonesia memiliki potensi besar dalam industri ini, terutama karena sumber daya nikel yang melimpah dan ekosistem baterai yang sudah berkembang. Namun, ia menyoroti bahwa produksi mobil listrik nasional masih terbatas.
“Kita punya potensi dari nikel, baterai sudah ada, bahkan daur ulang baterainya juga sudah tersedia. Tapi mobil listriknya sendiri belum ada, sementara kita sudah berkomitmen menuju net zero emission pada 2060, bahkan Presiden ingin mencapainya lebih cepat,” kata Rosan.
Ia juga menekankan bahwa saat ini Indonesia masih bergantung pada investasi dari produsen luar seperti Hyundai, BYD, dan Wuling. Sementara itu, produksi kendaraan dalam negeri diproyeksikan meningkat dari 1,2 juta unit per tahun menjadi 2,5 juta unit pada 2030.
“Intinya, masa kita tidak bisa berperan lebih besar dari itu?” ujar Rosan.
Terkait pengembangan kendaraan listrik nasional, Rosan menyebut bahwa pemerintah sedang mengkaji kemungkinan produksi dalam negeri. Ia menyinggung keberadaan kendaraan taktis Maung yang dikembangkan PT Pindad sebagai salah satu langkah awal.
“Kita sudah punya Maung, mungkin nanti ada pengembangan berikutnya. Ini yang akan kita bahas dan kerjakan lebih lanjut,” ujarnya.
Pemerintah berharap strategi ini dapat mempercepat pengembangan industri kendaraan listrik nasional dan menjadikan Indonesia sebagai pemain utama dalam rantai pasok global. (BME-3)






