Menkumham Ditunjuk Jadi Presiden the 61st Annual Session of AALCO

Menkumham Yasonna H Laoly, ditunjuk mewakili Indonesia sebagai Presiden the 61st Annual Session of AALCO. (Foto: Humas Rutan Tamiang Layang)

BERITA62.COM, Bali – Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia atau Menkumham Yasonna H Laoly, ditunjuk mewakili Indonesia sebagai Presiden the 61st Annual Session of AALCO.

Amanah ini merupakan sesuatu yang spesial mengingat Indonesia sebagai salah satu negara pendiri AALCO yang saat itu lahir dari semangat pergerakan bangsa Asia dan Afrika untuk melepaskan diri dari belenggu kolonialisme dan imperialisme sebagai hasil Konferensi Asia Afrika di Bandung pada tahun 1955.

Menkumham akan memimpin rangkaian sidang 61st Annual Session of AALCO dari tanggal 16-20 Oktober 2023, sidang itu akan membahas agenda-agenda yang telah dibahas pada sesi-sesi tahun sebelumnya serta usulan baru dari negara-negara anggota
AALCO.

Pada 61st Annual Session of AALCO tahun ini, sebagai tuan rumah Indonesia secara aktif
mengajukan usulan agenda baru, yaitu terkait pembentukan Asset Recovery Expert Forum di antara
negara-negara Asia-Afrika.

Selain itu, Indonesia juga mengusulkan pembahasan subtopik baru pada agenda “the Law of the Sea”, yaitu terkait “Illegal Fishing as a Transnational Organized Crime”, serta dua subtopik baru pada pembahasan agenda “Environment and Sustainable Development”,
yaitu “Combating Transnational Wildlife Crime” dan “Strengthening Asian-African Collaboration on Climate Change”.

Usulan Indonesia mengenai pembentukan Asset Recovery Expert Forum sebagai penguatan dalam upaya pengembalian aset hasil kejahatan transnasional, isu illegal fishing sebagai kejahatan
transnasional yang terorganisir, isu kejahatan terhadap satwa liar lintas batas, serta kerjasama
negara Asia – Afrika terkait perubahan iklim merupakan hal penting yang perlu menjadi perhatian, tidak hanya bagi Indonesia, tetapi juga bagi negara-negara Asia dan Afrika.

“Mari kita gunakan kesempatan pada 61st Annual Session of AALCO ini untuk mengobarkan kembali semangat kerja sama antara negara-negara Asia dan Afrika. Semangat ini, yang berakar pada Konferensi Asia-Afrika tahun 1955 yang bersejarah di Bandung, akan tetap menjadi inti aspirasi kita bersama,” kata Yassona.

“Sudah waktunya bagi kita untuk tidak hanya membahas masalah-masalah hukum, namun juga merefleksikan hasil Konferensi Asia-Afrika beserta prinsip-prinsipnya untuk terus memandu upaya kita bersama. Sesi tahunan ini merupakan bukti komitmen kita terhadap visi Asia dan Afrika, bekerja sama untuk masa depan yang lebih baik,” pungkasnya pada pidato pembukaannya sebagai
Presiden 61st Annual Session of AALCO. (Humas Rutan Tamiang Layang)

error: Content is protected !!